Selasa, 23 Juli 2013

Strukturalisme dan Perkembangan Awal
Semiotika (lanjutan)

Oleh : St. Tri Guntur Narwaya, M.Si


“Untuk menjelaskan perbedaan strukturalisme
dengan aliran-aliran pemikiran lain, pasti kita harus kembali
kepada pasangan-pasangan seperti umpamanya
‘signifiant’-‘signifie’ dan ‘sinkroni’-‘diakroni’.
(Roland Barthes)




‘Sinkronis’ dan ‘Diakronis’ linguistik

Bahasa dapat dipelajari menurut dua sudut pandang yakni : ‘sinkronis’ dan ‘diakronis’. Bahasa dapat diselidiki sebagai sebuah sistem yang terlahir melalui proses sejarah pembentukan bahasa. Pada fungsi penelitian ini mengarah pada pencarian perkembangan bahasa hingga bisa terbentuk sampai bahasa hari ini. Pada pengertian ini, kalangan ilmuwan meyakini bahwa bahasa adalah menyejarah. Prinsip mkeyakinan inilah yang selanjutkan kita letakkan sebagai pandangan ‘diakronis’.[1] Pada level pandangan lain, meyakini bahwa bahasa dapat diselidiki dengan mengesampingkan persoalan-persoalan tentang perkembangan ‘evolusi’ bahasa tersebut. Pada titik ini para ahli linguistik struktural yang dimulai dari Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa ‘struktur’ dalam bahasa lebih merupakan dimensi penting ketimbang dimensi kesejarahannya. Bagi Saussure, ‘sinkronis’ lebih harus menjadi prioritas pertama sebelum persoalan ‘diakronis’ bahasa. Setelah perkembangan lebih lanjut maka makna ‘struktur’ yang dimengerti dalam pandangan Saussure tentang bahasa ingin mengatakan bahwa : bahasa dimengerti sebagai ‘sistem’.[2]


Antropologi Budaya Claude Lévi-Straus (1908 - ?)

Pandangan tentang dimensi ‘sinkronis’ dan ‘diakronis’ ini tentu saja tidak hanya berhenti pada kajian bahasa. Ada sosok seperti Claude lévi-Straus seorang tokoh Antropologi Modern dari Perancis yang sangat terpengaruh dalam pendekatan ‘strukturalisme’ dalam bidang kajian budaya.[3] Pengaruh besar apa yang ditularkan kepada pemikiran Levi-Straus? Realisasi pandangan Lévi-Straus dalam karya pemikirannya tentang Antropologi Strukturalnya ada dalam tiga pandangan utamanya yakni : Pertama, sebagaimana bahasa yang seluruhnya merupakan sebuah sistem tanda, demikian juga unsur bahasa yang berupa fonem-fonem juga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi[4]; Kedua, sistem tersebut harus dipelajari dengan ‘sinkronis’, sebelum orang akan mempelajarinya dengan ‘diakronis’; Pandangan yang ketiga yang juga amat penting adalah sistem dan hukum linguistik memperlihatkan ‘suatu taraf tak sadar’. Bahasa digunakan oleh komunitas bahasa tanpa ragu, padahal manusia tidak menyadarinya dengan sadar. Pada keyakinan ketiga ini memperteguh sebuah pandangan mendasar lain dari ‘strukturalisme’ bahwa sistem bahasa dibentuk oleh imajinasi psike manusia yang tidak sadar.

Pada bidang kajian antropologi, Lévi-Straus menerapkan prinsip keyakinan struktural ini pada penelitiannya tentang ‘kekerabatan’. Baginya, sistem kekerabatan tak ubahnya bahasa merupakan proses poertukaran informasi dan komunikasi yang berkembang tanpa sadar. Sistem kekerabatan terbangun dari pandangan tak sadar bahasa. Pada kasus yang lebih kongkrit, Lévi-Straus mencontohkan pandangan kajiannya pada ‘larangan incest’, sebuah larangan atas perkawinan yang berasal dari klan keluarga/family yang sama. Ia memandang konsepsi ‘kekerabatan’ dan semua sistem kekerabatan bisa didekati dengan pendekatan struktural. Artinya ia ingin mengatakan bahwa sistem kekerabatan adalah ‘kode’ yang terbangun dari taraf pemikiran tak sadar, klasifikasi kekerabatan juga terbentuk dari sebuah sistem relasi yang terdiri dari oposisi-oposisi dan perbedaan-perbedaan, kemungkinan penyelidikan objektif-tanpa kehadiran seorang observator.[5]


Psikoanalisis Jacques Lacan (1901 - 1981)

Kita juga mengenal sosok intelektual pemikir seperti Jacques lacan, seorang ahli psikoanalisa modern yang juga berkebangsaan Perancis. Dia mengembangkan kajian psikoanalisa dengan pendekatan struktural bahasa yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Dimensi terpenting tentang ‘ketidaksadaran bahasa’ dipakai dalam mengkaji aspek ‘ketidaksadaran manusia’. Ini merupakan sebuah revolusi pemikiran yang menjauhi dari pandangan mainstream kesadaran modern yakni ‘manusia yang sadar’ sejak cogito ergo sum Descrates digemakan. Bagi Lacan, ‘kesadaran’ tidak lagi menjadi pusat dari manusia. Analisis ketidaksadaran yang sebelumnya dikembangkan juga oleh Sigmund Freud (bapak psikologi modern), memperlihatkan sebuah perubahan analisis manusia yang mempertunjukan tingkat kedalaman yang sebelumnya barangkali tidak teramalkan dan tak terduga. Manusia kebanyakan justru telah dibentuk oleh taraf ketidaksadaran ini. Banyak ‘ketidaksadaran manusia’ yang sejatinya telah mempengaruhi kehidupan manusia.

Gejala gejala manusia yang ingin ditunjukan sebagai bentuk ketidaksadaran seperti mimpi, gejala neurotis, atau gejala salah tindak, kepleset dan atau salah ngomong merupakan bentuk-bentuk dari tanda-tanda yang saling berelasional. Ketidaksadaran bagi Lacan bahkan dimengerti sebagai ‘Logos’ (pengetahuan) yang mendahului manusia perorangan.[6] Manusia menyesuaikan diri dengan struktur ketidaksadaran itu, tetapi manusia tidak menguasai struktur tersebut. Bagi Lacan, ketidaksadaran bisa ditempatkan sama persis seperti bahasa. Bahkan dalam catatan paling besar dia adalah : ketidaksadaran mempunyai struktur yang sama seperti bahasa. Dalam percakapan psikoanalisis, subjek sejatinya tidak sedang berbicara tetapi ia dibicarakan. Ketidaksadaran bisa juga dikatakan ‘le discours de L’autre’ (diskursus dari yang lain’.[7] Beberapa pemikiran kunci Lacan banyak berpengaruh terhadap perkembangan bukan hanya pada bidang Psikoanalisis, tetapi juga ilmu-ilmu kemanusiaan yang lain seperti politik.[8]


Kritik Sastra Roland Barthes (1915 - 1980)

Roland Barthes bisa dikatakan sebagai penganut strukturalis[9] yang juga sangat berpengaruh, terutama pada kajian-kajian ‘kritik sastra’ dan ‘budaya massa’. Sebagai seorang pemikir Perancis yang lahir dalam situasi ledakan budaya massa yang begitu gencar, Barthes banyak berkecimpung dalam berbagai karya tulisan yang menyentuh isu tersebut. Barthes sendiri mengakui bahwa dalam moment intelektualnya, karya-karya yang ia ciptakan banyak menyentuh pandangan dari Semiotika Strukturalisnya Saussure.[10] Pandangan strukturalis Barthes tentu saja berkembang melampaui apa yang menjadi pandangan pertama Saussure. Momen Strukturalis Saussure, telah menjadi lompatan dan transit bagi  perkembangan intelektual Barthes.

Apa yang menjadi kekaguman Barthes pada Semiotika Strukturalis, adalah bahwa pendekatan kajian ini bisa digunakan untuk kajian-kajian bahasa, budaya dan ideologi. Berbagai perkembangan budaya massa yang hadir kala itu, benar-benar butuh sebuah elaborasi teoritik yang lebih tajam. Semiotika bagi Barthes bisa digunakan sebagai ‘kritik ideologi’.[11] Beberapa konsep kuncinya ia tuangkan dalam buku yang begitu bagus yakni ‘Elements’. Dalam karya buku itu kita akan temukan beberapa konsep atau elemen kunci dari Barthes mengenai apa itu semiotika dan bagaimana pendekatan semiotika bisa digunakan sebagai metode yang ilmiah.[12] Dalam beberapa karya yang lain seperti “The Imagination of The Sign (1960), Barthes telah banyak mengupas beberapa dimensi penting dalam relasi tanda yakni relasi simbolik, relasi sintagmatik, dan relasi paradigmatik.

Analisis kajian Barthes juga berkembang dalam berbagai dimensi hidup kebudayaan modern seperti mode, lifestyle, iklan, film, foto, objek wisata hingga makanan. Tentu saja ini merupakan sumbangan amat berharga bagi dunia kajian budaya massa. Karya-karyanya seperti ‘Mythologies’, ‘Image, Music, Text’, ‘The Photograpic Message’, dan ‘The Fashion System’ merupakan beberapa karya penting mengenai budaya popular. Atas jasa intelektual Barthes, ilmu semiotika telah menjadi sebuah pendekatan ilmiah yang bisa disejajarkan dengan ilmu-ilmu kemanusiaan yang lain, Bisa dikatakan pula bahwa, Barthes merupakan salah satu pemikir besar yang melahirkan dan mengembangkan kajian semiotika modern saat ini.

Barthes amat berminat kepada Semiotika tidak semata-mata pada aspek linguistik saja, melainkan bahwa semiotika baginya bisa membuka berbagai kajian tentang ‘other than language’.[13] Semiotika bisa mengkaji bukan hanya pada persoalan teks bahasa itu sendiri, melainkan pada perkembangan sejarah kehidupan modern yang ada. Tak hanya ia akan tajam menampilkan analisis-analisis pembongkaran mitos-mitos modern, melainkan Semiotika justru dikembangkan karena dialektika yang kongkrit dengan perkembangan-perkembangan budaya modern tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, sangat disadari bahwa Semiotika kemudian tak hanya dipakai dalam analisis-analisis bahasa semata melainkan juga menjadi sebuah pendekatan baru dalam filsafat yang sebelumnya dianggap sebelah mata.


Marxisme Louis Althusser (1918 - 1990)

Kenapa Louis Althusser? Bukankah dia seorang penganut Marxisme, sebuah faham pemikiran yang secara epistemologis jauh dari kesamaan strukturalisme.  Kritik atas strukturalisme banyak dilontarkan oleh para pemikir-pemikir Marxis pada saat itu. Pengkaitan strukturalisme dengan marxisme Louis Althusser tentu tidak tanpa alasan. Era kehidupan intelektual Althusser bersamaan dengan perkembangan kebudayaan modern Perancis yang begitu massif dan juga bersamaan dengan perkembangan kajian Strukturalisme yang lagi popular di Eropa pada saat itu. Beberapa pemikiran Althusser memberi perpektif baru bagi interpretasi atas Marx dan Marxisme pada saat itu. Interpretasi ulang itu berkait dengan ‘diskontinuitas’ atas pemikiran-pemikiran Marxsime.[14] Sebagai sebuah perkembangan pemikiran, Karl Marx tidak diandaikan sebagai sebuah perkembangan totalitas yang liner dengan problematika pemikiran yang tunggal.  Bagi Althusser, pemikiran Marx dengan berbagai konsep yang dikembangkannya memiliki berbagai dimensi pemikiran yang beragam.

Pandangan-pandangan Marxisme tidaklah ekonomis semua, dalam beberapa pemikiran terutama pada saat mudanya (baca : Marx Muda), banyak konsep-konsep penting yang lebih berbicara pada humanisme tentang hidup manusia. Pada beberapa tulisan ia menulis tentang subjek, kesadaran, alienasi, kodrat manusiawi, dll.  Tentu saja penggalan-penggalan ini perlu dibaca sebagai ruang yang amat luas tentang Marxisme itu sendiri.  Karya besar das Kapital Marx (Das Capital) tentu salah satu dari wajah pemikiran Marx yang bisa dikatakan sebagai puncak pemikiran ilmiah Marx. Namun dalam perjalanan dan dinamika intelektualnya, Marxisme merupakan ruang terbuka. Beberapa konsep pemikirannya juga berpusat dalam pengertian-pengertian yang menyentuh problem bahasa. Maka interpretasi kembali atas Marxisme tidaklah berwajah tunggal. Althusser meyakini, bahwa interpretasi baru atas Marx selalu dibutuhkan untuk ikut mengembangkan pendalaman ilmu pengetahuan itu sendiri.

Melalui pemikiran Marxisme Strukturalis Althusser, kita akan diperkenalkan dengan beberapa konsep penting bagaimana dinamika determinasi kekuasaan juga tidak hanya diberlakukan dengan kerja-kerja ekonomis belaka. Ada dimensi ‘ideologis’ dan ‘hegemonik’ yang dijalankan melalui mesin-mesin budaya dan aparatus ideologisnya. Salah satu apa yang disebut sebagai ‘aparatus ideologis negara’[15] adalah bekerja melalui mesin-mesin institusi yang lekat dengan penggunaan dimensi bahasa seperti pendidikan dan agama.[16] Pada kenyataannya memang tidak bisa dipungkiri bahwa masing-masing ‘aparatus’ baik yang ‘represif’ maupun yang ‘idelogis’ kadang-kadang masing-masing menggunakan penggabungan pendekatan. Tidak ada masing-masing ‘aparatus’; yang ada hanya menggunakan salah satu fungsinya. Pencampuran ini membuktikan sebuah kombinasi yang eksplisit aatau diam-diam yang sangat halus yang muncul dari interplay dari kedua fungsi aparatus ini.[17]

Bagi Althusser, Aparatus-aparatus Idelogis Negara tersebut adalah bentuk pengejowantahan dari ideologi yang berkuasa, dan bentuk yang di dalamnya ideologi dari kelas yang dikuasai harus secara niscaya ditangani dan dikonfrontasi. Ideologi-ideologi itu tidak terlahir dari Aparatus-aparatus itu sendiri melainkan dari kelas-kelas sosial yang berkepentingan dalam perjuangan kelas; dari syarat-syarat eksistensi mereka, praktik-praktik mereka, pengalaman perjuangan mereka dan sebagainya.[18] Keterkaitan relasi inilah yang sejatinya mengambil dasar dari pemikiran Strukturalis tentang ‘ketidaksadaran’. Hegemonisasi dan ideologisasi selalu bekerja pada wilayah-wilayah ketidaksadaran manusia yang biasanya lebih bersifat privat dan intim. Jika pandangan Strukturalis meletakkan sebuah fenomena ‘ketidaksadaran bahasa’, dalam pandangan marxisme Strukturalis ala Althuser, ketidaksadaran juga berlaku pada ‘ketidaksadaran relasi kekuasaan kelas’ yang pada Marxis awal tergambarkan dalam ‘ketidaksadaran ekonomis’.[19]


Epistemologis Michel Foucault (1926 - 1984)

Sosok pemikir seperti Michel Foucault merupakan sosok besar yang sangat berpengaruh besar pada beberapa kajian tentang diskursus, bahasa, epistemik kekuasaan, dan juga sexualitas. Tokoh pemikir Perancis ini juga bisa dikatagorikan sebagai pemikir yang menyumbang banyak pada kajian-kajian ilmu nsosial yang tidak lepas dengan pengaruh Strukturalisme Perancis pada saat itu. Kebetulan juga karya-karya besar Michel Foucault terlahir berbarengan dengan sat-saat masa jayanya pemikiran Strukturalisme di Eropa. Salah satu kajiannya tentang bagaimana mekanisme kekuasaan bekerja telah melampui pandangan umum tentang ‘kekuasaan’.  Karya-karya seperti “Surveiller et punir (1975) dan Histoire de la sexualite. La Valonte de savoir (1976) banyak menggali dan menjelaskan bagaimana mekanisme ‘kekuasaan’ itu bekerja dan beroperasi.
Kritik dasar pertama Foucault sejatinya mau ditujukan pada kritik atas pendasaran rasio modern dengan segala metode pembahasannya. Kesadaran pengetahuan modern dengan dalil kepastiannya ingin dibongkar karena sejatinya menyimpan sebuah wajah dari relasi kekuasaan bekerja. Bertolak belakang dengan konsepsi nalar kemajuan dan sejarah emanispasi ilmu-ilmu modern, Foucaul justru menampilkan sebuah telaah kritis tentang apa yang disebut sebagai perkembangan sejarah yang mempertimbangkan banyak aspek keterputusan, diskontinuitas dan kontradiksi.[20] Gagasa-gagasan cemerlangnya yang anti terhadap konsepsi kemajuan sejarah justru telah membuka banyak medan representasi dunia yang beragam. Sejarah kemudian bisa ditafsir dan diinterpretasikan secara lebuh beragam.

Pada pembahasan ‘kekuasaan’, Foucault amat yakin berpandangan bahwa ‘kekuasan’ bukanlah sebuah hubungan kausalitas dan juga bukan hak milik yang kemudian secara determinasi melakukan operasim kekuasaan yang linier antara pemilik kekuasaan dan yang dikuasai. Kekuasaan adalah sebuah fenomena bentuk mekanisme yang menyebar dan relasional. Pada ungkapan terpentingnya di buku la Valonte de Savoir (1976), Foucault menekankan bahwa kekuasan bukan suatu institusi, dan bukan struktur, bukan pula sebagai kekuatan yang dimiliki; tetapi nama yang diberikan pada swuatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat. Kekuasaan bagi Foucault ada di mana-mana; bukannya bahwa kekuasaan mencakup semua, tetapi kekuasaan datang dari mana-mana.

Jika kebermaknaan sebuah bahasa dan tanda ada dalam prinsip perbedaan (diference), maka ‘kekuasaan’ bagi Foucault juga terlahir dari situasi perbedan-perbedaan, pemisahan dan juga ketidakseimbangan (diskriminasi).  Situasi-situasi itu bisa terdapat dalam dimensi hidup manusia apa saja seperti dalam pendidikan, keluarga, tempat kerja, institusi dan yang lainnya. Bahkan secara epistemik, kekuasaan sebenarnya inhern hidup dalam cara bangunan pengetahuan bekerja.[21]  Peralihan pandangan kekuasan kea rah subjek manusia merupakan lompatan pemikiran yang dilakukan oleh Foucault. Subjek manusia telah menjadi objek dari pengetahuan.

Melalui pengetahuan, manusia kemudian didisiplinkan melalui berbagai konsep, katagori maupun sistem klasifikasi-klasifikasi pengetahuan yang ada. bahkan bisa dikatakan bahwa kelahiran manusia sejatinya justru lahir sejak pengetahuan telah mendefinisikan manusia. Pandangan ini sebenarnya menggenapi pandangan baru tentang kekuasaan Foucauldian yakni bahwa  kekuasaan tidak dapat dilokalisasi, merupakan tatanan disiplin dan dihubungan dengan jaringan (relasional), memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tetapi produktif serta melekat dalam kehendak untuk mengetahui.[22]

Bisa dikatakan langkah analisis Foucault adalah sebuah langkah dekonstruksi atas pemahaman kekuasaan yang mapan.  Apa yang dikembangkan dalam analisis kekuasaan tidak terletak pada pemahaman komprehensif tentang kondisi internal kekuasan seperti bagaimana bentuk rasionalitas teknik kekuasaan, tetapi justru melakukan sebuah pembalikan dengan mengkaji apa yang menjadi ‘perbedaan-perbedaannya’. Yang ditampilkan Foucault bukan anti rasionalitas, tetapi mengkaji aspek rasionalitas lain yang barangkali dianggap ‘pinggiran’. Kajian-kajian Foucault yang menunjukan pandangan itu hadir dalam analisis-analisisnya tentang fenomena kegilaan, seksualitas, penyakit, kejahatan, kematian dsb. Wilayah kajiannya tidak pada ranah pemikiran yang abstrak tetapi masuk dalam contoh-contoh fenomena kongkrit yang berkembang yang menunjukan berbagai momen perbedaan-perbedaan.

Konsep kunci yang juga ditampilkan oleh Foucault adalah tentang disiplin, kepatuhan dan teknik kekuasaan. Pengetahuan bagi Foaucault juga salah satu mekanisme untuk membangun disiplin dan kepatuhan yang merupakan gambaran kekuasaan tersendiri. Disiplin kepatuhan telah membentuk individu-individu. Subjek manusia modern terbentuk dari berbagai mekanisme disiplin yang dibentuk oleh pengetahuan modern. Letak relasi ‘pengetahuan’ dan ‘kekuasaan’ ini bagi Foucault sangatlah erat. Prinsip pandangannya adalah bahwa “Kekuasaan menghasilkan pengetahuan…kekuasaan dan Pengathuan saling terkait…tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan serta tidak mebentuk sekaligus hubungan kekuasaan”.[23]

Aspek ‘ketidaksadaran’ pengetahuan manusia menjadi konsep kunci dari pemikiran Foucault.  Beberapa karyanya sesungguhnya merupakan usaha untuk menemukan dalam sejarah pengetahuan yang merupakan ketidaksadarannya. Menurut Foucault, di bawah apa yang diketahui dan difahami oleh ilmu pengetahuan ada seautu yang tidakdiketahuinya, tetapi mempunyai hukum dan aturannya sendiri. Prinsip inilah yang kemudian hanya bisa dibongkar melalui mekanisme dikursus kritis. Kesinambungan dengan strukturalis terletak pada poin ketidaksadaran ini. Sebagaimana bahasa sebagai sistem hadir dalam ketidaksadaran subjek bahasa, demikian pula tentang apa yang ada dalam mekanisme kakuasaan.

Pengaruh strukturalisme dalam pemikiran Foucault bisa ditelusuri melalui karya tulisannya yakni Order of Thing[24] yang menelaah secara mendalam pada kembalinya dimensi bahasa dalam memahami perkembangan ilmu tentang manusia. Realitas manusia atau masyarakat sebagai sebuah kenyataan hanya bisa difahami melalui bahasa atau wacana. Realitas adalah hasil konstruksi. Bahkan menurut Foucaul, pandangan kita tentang sebuah objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif.[25] Persepsi tentang sebuah objek, akan sangat dibatasi pada praktik diskursif yang terbangun. Pada titik ini tidak bisa dipungkiri sumbangsih pandangan Strukturalisme sangat besar bagi pemikiran Foucault.






[1] Ahli-ahli linguistik abad ke-19 lebih banyak menggunakan pendekatan ini. Mereka mempelajari bahasa dari sudut pandangan komparatif-historis  dengan menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa tertentu, etimologi, perubahan fonetis, dan lain sebagainya. Lihat, K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Jilid II Perancis, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996, hal. 184.
[2] Lihat, K. Bertens, Ibid, hal. 185.
[3] Sebelumnya kita juga akan mengenal tokoh pemikir sosial (sosiologi) seperti Marcel Mauss (1872-1950) yang menerapkan pendangan ‘strukturalisme’ dalam kajian sosiologi.
[4] Sifat sifat paling hakiki aspek-aspek kebudayaan sama dengan sifat-sifat bahasa. Istilah-istilah kekerabatan yang menjadi kajian besarnya akan memperoleh makna bila dintegrasikan ke dalam sistem.  Unsur0unsur tersebut dapat dikaji melalui pandangan struktural melalui beberapa korelasi, opisisi dan relasi tanda yang ada dalam kebudayaan tersebut. Bdk, Harimurti Kridaleksana, Mongin Ferdinand de Saussure (1857 - 1913), Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005, hal. 48.
[5] Lihat, K. Bertens, Ibid, hal. 197.
[6] Lihat, K. Bertens, Ibid, hal. 206.
[7]  Lihat K, Bertens, Ibid, hal. 207.
[8] Beberapa teori politik kontemporer modern seperti yang dikembangkan oleh Louis Althusser,  Slavoj Zizek, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe banyak terinspirasi pada gagasan-gagasan kunci lacan. Lihat, Ernesto Laclau & Chantal Mouffe, Hegemoni dan Strategi Sosialis, Penerbit ResistBook, Yogyakarta, 2008. Salah satu konsep pemikiran itu tertuang dalam gagasannya tentang teori diskursus yang meyakini bahwa setiap objek dan peristiwa mempunyai makna. Makna terbentuk dari sistem-sistem particular yang memiliki perbedaan-perbedaan signifikan.
[9] Klasifikasi ini memang kadangkala memang menjebak pada penyempitan pemahaman, dan tidak seluruhnya tepat. Petualangan intelektual Roland Barthes sendiri memang jauh melampui daripada itu. Bahkan pada beberapa pemikiran, justru meletakkan ia sebagai dalam posisi ‘post-strukturalis’.  Namun yang menjadi sama adalah bahwa pengaruh Saussure tidak bisa dihindari dalam setiap pemikiran Barthes, meskipun dalam perkembangan intelektualnya justru ia telah banyak menyumbang berbagai perkembangan kontemporer mengenai kajian-kajian semiotik terutama pada semiotika kajian budaya.
[10]  Lihat, St. Sunardi, Semiotika Negativa, Penerbit Kanal, Yogyakarta, 2002, hal. 22.
[11]  Lihat, St. Sunardi, Ibid, hal. 23.
[12] Seperti yang sudah banyak dikenal beberapa elemen kunci Semiotika Barthes tertuang dalam buku ini seperti “Language and Speech”, “Signified dan Signifier”, “Syntagm dan System”, dan njuga konsep mengenai ‘Denotation dan Konotation”.
[13]  Lihat, St Sunardi, Ibid, hal. 44.
[14] Dalam beberapa kajian tenjtang Pos=Marxisme, beberapa konsep kunci yang dikembangkan oleh beberapa kajian bahasa, diksursus dan makna telah banyak dikembangkan.
[15] Konsepsi ‘Aparatus Ideologis Negara’ ini untuk tidak dirancukan dengan ‘Aparatus Represif negara’ yang kedua ini lebih berbicara pada wilayah ‘publik’ dan yang pertama lebih berbicara pada ‘wilayah privat’. Perbedaan yang lebih esensial lagi, bahwa ‘Aparatus Represif Negara’ menjalankan fungsinya dengan ‘kekerasan’ dan ‘Aparatus Ideologis Negara’ menjalankan fungsinya dengan ‘idelogis’.
[16] Lihat, Louis Althusser, Filsafat sebagai Senjata Revolusi (terjemahan), Penerbit ResistBook, Yogyakarta, 2007, hal. 167 - 168. Pada tulisan Althusser disebutkan bahwa Aparatis Ideologis Negara bisa terdapat pada isntitusi pendidikan, agama, keluarga, hukum, politik, serikat buruh, komunikasi dan kebudayaan.
[17] Lihat, Louis Althusser, ibid, hal. 170.
[18] Lihat, Louis Althusser, ibid, hal. 221.
[19] Sebuah kondisi ketidaksadaran yang ingin menjelaskan bahwa manusia sejak masa kelahirnya sudah hidup dalam berbagai relasi-relasi ekonomis yang terbangun yang menjadi kondisi dari wajah dan mode hidup masyarakat.
[20] Lihat tulisan Haryatmoko, Kekuasaan Melahirkan Anti-Kekuasaan : Menelanjangi Mekanisme dan Teknik Kekuasaan Bersama Foucault,  dalam Majalah Basis Edisi Foucault, No. 01 - 02, Tahun ke-51, Januari - Februari 2002, hal. 11.
[21] Pengetahuan tak lagi hanya sebagai bagian hidup manusia, melainkan telah menjadi bagian besar dalam mendefinisikan siapa manusia. Secara prinsip pengetahuan telah menjadi rezim disiplin dan norma bagi pembentukan manusia. Saat diskursus pengetahuan telah memberikan batasan-batasan dan definisi-definisi tentang siapa itu manusia, pada saat itupula sebenarnya bisa dikatakan bahwa dimensi kekuasan telah bekerja.
[22] Lihat, Haryatmoko, Ibid, hal. 12.
[23]  Diambil dari bukunya “Surveiller et Punir” (1975) yang dikutip oleh Haryatmoko, Ibid, hal, 13
[24] Lihat, Michel Foucault, Order of Thing : Arkeologi Ilmu-ilmu Kemanusiaan (terjemahan), Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007.
[25] Lihat, Eriyanto, Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media, Penerbit LKIS, Yogyakarta, 2005, hal. 73.

Tidak ada komentar: