Selasa, 23 Juli 2013

KAJIAN SEMIOTIKA
Dosen : St. Tri Guntur Narwaya, M.Si


Gambaran Materi :


“Bila sesuatu tidak dapat digunakan
untuk mengungkapkan dusta,
Maka sebaliknya ia tidak dapat pula digunakan
untuk mengungkapkan kebenaran”
(Umberto Eco)          


Kajian Semiotika adalah salah satu deretan pendekatan dalam ilmu-ilmu sosial hari ini yang cukup berkembang terutama pada ilmu-ilmu humaniora dan ilmu komunikasi. Semiotika menjadi penting untuk memahami berbagai kenyataan sosial dari kehidupan kebudayaan manusia terutama berbagai makna dan tanda yang hidup dan bertumbuh dalam masyarakat. Sebagaimana makna pengertiannya, semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia (Beny H. Hoed, 2011 : 3). Manusia berhadapan dengan realitas dunia di luarnya selalu akan bersentuhan dengan pemaknaan. Bagi pandangan kesadaran semiotika, tak ada kebenaran realitas pada dirinya sendiri sebelum ada proses pemaknaan. Semiotik pada perkembangan saat ini akhirnya amatlah penting menjadi perangkat teori untuk memahami kebudayaan manusia dan masyarakat dalam arti luas.

Banyak kehidupan kebudayaan manusia yang tak terlepas dari  hadirnya makna. Dari persoalan cara berpakaian, cara berbicara, cara bertempat tinggal bahkan cara membangun kehidupan keluarga tidak bisa melepaskan dengan berbagai tanda dan pemaknaan ini. Pakaian, makanan, gaya hidup, bahasa dan wujud simbol-simbol fisik lainnya tak hanya dimaknai sebagai sebuah sesuatu kenyataan yang berdiri sendiri. Sebuah simbol dan tanda dalam benada-benada itu sejatinya adalah berbicara pada sesuatu dan tentang sesuatu. Maka bisa dikatakan, kehidupan manusia adalah bentangan, tebaran dan juga multi relasi berbagai tanda yang komplek. Semua tanda merupakan wujud nyata bahwa manusia adalah mahluk yang penuh makna.

Dalam ujung yang lain fenomena kehidupan manusia penuh dengan tumpang tindih realsi tanda yang kadangkala jauh dari kebenaran yang ada. Bahkan Umberto Eco salah satu pemikir besar meliaht semiotika sebagai terori dusta. Asumsi ini barangkali ada dalam keyakinan bahwa citra, symbol atau tanda yang hadir ditengah kehidupan kita bisa jadi merupakaan rekaan yang dihasiilkan dari praktik-praktik dusta dan pemalsuan. Banyak tanda dan citra di realitas kita sejatinya merupakan manifestasi pemalsuan dan penyembunyian dari kebenaran sejatinya. Dalam realitas yang sudah terkemas begitu maka batas apa yang disebut kebenaran kemudian menjadi relatif dan bahkan kabur. Kebenaran yang sudah t6erdistorsi dan kabur ini jika kemudian diyakini menjadi kebenaran maka di titik itulah kemudian bisa punya karakter ideologis.

Maka sebenaranya tugas penting dari semiotika untuk bisa memberikan kontribusinya untuk mengkaji berbagai ntanda, symbol atau makna yang hadir dalam kehidupan manusia. Sesauai dengan pengertian dasarnya yakni sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda, relasi antar tanda dan relasi tanda dengan pemakainya. Jauh lebih besar lagi kajian semiotic ini mampu menjadi media tumbuhnya kesadaran yang lebih terbuka dan kritis bahwa realitas di luar sana yang kita hadapi sejatinya mengandung berbagai pertautan, relasi dan kelindan makna, tanda bahkan kepentingan ideology yang ada. Dalam bahasa tertentu kita sebut capaian kesadaran ini sebagai ‘kesadaran semiotika” yakni kesadaran yang melihat sesautu bukan sebagai entitas nomenklatura yang kaku, beku dan stabil. Entitas apapaun selalu bertumbuh, bergerak dan berdinamika dengan relasi tanda yang lain. Kontribusi semiotika secara kritis ada dalam poin pengetian di atas.



Tidak ada komentar: