Selasa, 23 Juli 2013

Semiotika Pascastrukturalisme, Postmodernisme
dan Catatan Kritik Atasnya

Oleh : St. Tri Guntur Narwaya, M.Si


“Dalam ruang Posmodernisme yang multidimensional dan licin ini,
segala sesuatunya bisa berlangsung sesukanya seperti halnya
permainan-permainan tanpa aturan”
(Suzy Gablik)


Gugatan Atas Narasi Besar Modernisme

Guncangan pemikiran-pemikiran Pasca-Strukturalisme terhadap klaim pengetahuan dan keyakinan abad modern memang luar biasa. Dengan segala kapasitasnya masing-masing, pemikir-pemikir yang juga melahirkan nalar postmodernisme seperti J.F. Lyotard,  Jacques Derrida, Michel Foucault, Gilles Delueze, Emmanuel Levinas, Jean Beaudrillard ataupun Frederic Nietzsche telah mampu menunjukaan sebuah upaya penjungkirbalikan gagasan mainstream yang begitu mapan yang diidap oleh kesadaran modern terutama pada beberapa prinsip dasar modernitas dan nalar modern saat itu[1]. Kritik mendasar Pasca-Strukturalis tak hanya menyentuh pada bangunan nalar pengetahuan tetapi juga keyakinan sosial yang saat itu hidup.[2] Modernitas dengan kemajuannya menyimpan problem internal dan eksternal yang berbahaya.[3] Paper ini ingin menggambarkan beberapa dasar kritik Pasca-Strukturalis terhadap filsafat modern sebelumnya dan kemudian melihat lebih kritis pengandaian-pengandaian Pasca-Strukturalis dengan beberapa kritik yang diberikan kepadanya. Tentu saja sebagai sebuah pemikiran, banyak juga asumsi-asumsi filosofis dasar dari Pasca-Strukturalis yang penting dilihat dan mempunyai kelemahan.

Yang modern telah lewat. Modernitas dengan segala klaim ‘narasi besarnya’ telah ambruk. Demikianlah jargon suara-suara kaum Postmodernisme untuk meyakinkan bahwa modrnisme lebIh hanya menjadi mitos besar yang ilusif. Kenyataan sendi-sendi dan sistem-sistem berpikir yang dipegang oleh modernisme telah kehilangan elan vitalnya. Ia tidak hanya dipandang sebagai sebuah kemerosotan tetapi lebih dari itu bahwa asumsi pikir dasarnya sudah bermasalah sejak lahirnya. Gagasan-gagasan narasi besar modernsime melalui nalar perkembangan ilmu-ilmu ilmiahnya hanyalah klaim topeng-topeng dari cara berpikir yang serba paradok dan ironi. Narasi-narasi besar filsafat modern yang mengagungkan cita-cita emansipasi ternyata juga dicurigai hanya sebagai ‘permainan bahasa’ semata. Keajegan-keajegan sistem berpikir yang dianggap ada hanyalah ilusi. Klaim yang menyatakan bahwa nalar berpikir (filsafat) harus berjalan di aras yang demonstratif, argumentatif dan rasional tak akan langgeng, karena apa yang kita sebut sebagai rezim demonstrativitas adalah problematik, beragam dan terus bergerak.[4] Penolakan atas universalisasi pemikiran dan pengandaian-pengandaian kokoh atas narasi besar yang kokoh adalah sebagian seruan kritis para pemikir Pasca-Strukturalis terhadap modernisme.

Pada dimensi lainnya, Pasca-Strukturalis juga menyentuh pada kritik atas ‘kemenentuan’ dan ‘keberpastian’ setiap gagasan ilmu pengetahuan atau gagasan keyakinan lainnya.  Maka tidak mengherankan, dalam semangat apokaliptiknya berkecenderungan menyerukan sebuah ‘era keberakhiran dan kekosongan’ bagi narasi-narasi besar modernisme. Maka banyak para pemikir ini menyebutnya sebagai era ‘gerak pisah’ dengan modernisme. Ada retakan-retakan dan ruang fragmentasi atas bangunan keyakinan yang dianggap kokoh. Drama panggung pencerahan sudah berakhir! Demikianlah seruan kritisnya. Rasa ‘keberakhiran’ ini bahkan pada perkembangan pemikiran di Barat pada saat itu seringkali dipakai dalam berbagai gagasan tentang kritik terhadap simpul-simpul atau nilai-nilai keyakinan modernisme. Beberapa contoh hadir seperti : Pos-Kapitalis,  Pos-Borjuis, Pos-Sejarah, Pos-masyarakat pasar, Pos-Tradisional dan lainnya. Bahkan yang lebih ekstrim juga sering menggunakan bahasa ‘kematian’ pada setiap gagasan mainstream. Istilah-istilah seperti ‘kematian pengarang’, ‘kematian-ilmu pengetahuan’, ‘kematian subjek’, ‘kematian ideologi’ dan kematian-kematian yang lain ya menjadi bahasa trend kala itu.

Kemajuan yang paralel ke depan dengan kesinambungan kualitas yang meningkat yang diperagakan dalam asumsi modern[5] meletakan berbagai konsepsi tentang keteraturan, rigoritas disiplin dan sistem berpikir yang linier dianggap oleh kaum postmodernisme penuh masalah.Setidakya eberapa kritik atas modernism yang dilakukan oleh pemikiran Pasca-Strukturalisme terletak pada kegagalanya dalam mewujudkan perbnaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan masyarakat lebih baik. Modernisme justru banyak melahirkan patologi-patologi sosial yang mengerikan. Klaim atas sempurnanya ilmu pengetahuan sebagai sumber kebenaran juga akhirnya mengalami kemerosotan dan kerapuhan. Gugatan-gugatan Pasca-Strukturalisme tak jauh dari kritik atas watah angkuh modernisme yang sangat positivistik, rasionalistik dan teknosentris; modernisme yang yakin secara fanatik pada kemajuan sejarah yang linier; kebenaran ilmiah yang mutlak, kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan, serta pembakuan secara ketat tata pengetahuan dan system produksi; modernism yang kehilangan semangat emansipasi dan terperangkap dalam sistem yang tertutup; dan modernisme yang tak lagi peka terhadap perbedaan dan keunikan.[6]

Pasca-Strukturalisme adalah babak dimana narasi-narasi kecil mempunya tempat. Narasi besar tak lagi kuasa mendominasi tempat. Yang besar terfragmentasi menjadi wacana-wav\cana kecil yang saling berdinamika. Tak ada segala sesuatu yang final. Emua makna bahkan kebenaran dimaknai secara ‘kontingen’. Kehidupan manusia dan masyarakat kemudian dilihat sebagai pengembaraan yang tidak akan berujung pada epos yang selesai. Semua kemudian bertmbuh, berproses dan berkembang dalam berbagai kelindan relasi dengan makna entitas-entitas lain. Pemikiran Ariel Heriyanto dalam Jurnal Majalah Kalam bisa dilihat untuk melihat ciri-ciri pemikiran Pasca-Strukutralis atau Postmodernisme :

“..Menekankan emosi ketimbang rasio, media ketimbang isi, tanda ketimbang makna, kemajemukan ketimbang penunggalan, kemungkinan ketimbang kepastian, permainan ketimbang keseriusan, keterbukaan ketimbang pemusatan, yang local ketimbang yang universal, fiksi ketimbag fakta, estetika ketimbang etika dan narasi ketimbang teori”.[7]

Betapa kritik atas klaim narasi besa modernism merambah dalam berbagai dimensi hidup manusia. Kita bisa menengok kritik sastra dari penyair Amerika yang cukup terkenal, Charles Olson yang memberikan kritik satir atas kondis masyarakat postmodernitas. Dunia kehidupan Barat dalam dasar ontologis pikirnya sangat menekankan rasionalitas modrn secara membabi buta. Proses ini menghadirkan banyak manusia kehilangan autentisitas kehidupan dan kesejatian kehidupan manusia. Menurut Hans Bertens, manusia kemudian kehilangan untuk bisa memaknai segala keunikan dan kearifan diri yang hadir.[8] Seringkali rasionalitas modern menutup kemungkinan perkembangan kebermaknaan ini.


Mengugat Kembai Doktrin Para Penggugat?

Namun sebagaimana kewajaran dari dinamika pemikiran dan iklim perkembangan intelektual,tentu apapun yang dimaknai sebagai kebenaran selalu akan mengalami ketegangan dengan pemikiran-pemikiran yang lain. Dalam sub bagian ini tentu saja akan menunjukan beberapa telaah atas asumsi dari postmodernisme atau Pasca-Strukturalisme. Beberapa catatan juga penting kita tunjukan atas gagasa besar kaum Pasca-Strukturalis. Tentu saja banyak pandangan dan mazhab pikiran yang tidak terima begitu saja atas apa yan ditebarkan oleh kritik Pasca-Strukturalisme. Dia merentang dari beberaa pemikiran modern awal yang jelas-jelas menjadi pusat dari kritik tesebut sampai degan pemikiran kontemporer hari ini. Termasuk di dalam hal ini adalah keyakinan-keyakinan pemikiran dalam ranah ideologi yang berkembang sampai hari ini.  Kita bisa memberi contoh adalah gugatan pemikiran Marxisme yang meletakan prinsip dasar ‘materialisme’ untuk memberi catatan penting bagi pemikiran Pasca-Strukturalisme yang diangap sangat berbau ‘idealisme’. Tidak semuanya akan kita ketengahkan, tetapi beberapa pemikiran arus besar yang menarik penting dibaca akan dibahas di sini.

Tuduhan idealisme yang diarahkan pada Pasca-Strukturalis barangkali penting didengar. Memang hamper sebaian besar tidak sepakat atas tuduhan ini. Nalar Pasca-Strukturalisme dianggap menyembunyikan pandangan idealisme didalam gagasan yang dibangun. Idealisme bukan pada letak pemusatan subjektifitas gagasan. Tetapi terletak pada apa yang disebut sebaai “Doktrin tentang Relasi Internal”. Doktrin pandangan ini dianggap sebagai jantung dari idealisme. Doktrin tentang Relas Internal adalah bahwa “esensi/identitassuatu hal dikonstitusika oleh relasinya denga ha yan lain dan ini berlaku universal”.[9] Pandangan ini mau mengatakan bahwa “relasi bersifat internal terhadap halnya”.

Doktrin tentang Relasi Internal adalah gagasan penting yan sudah lama digunakan dalam pandangan ideaisme terutama memuncak pada idealisme Jerman yang dikembangkan oleh Frederic Hegel. Dalam pandangan Hegel, bahwa setiap Positivitas senantiasa terdapat negativitas, dalam setiap identitas senantiasa terdapat perbedaan.[10] Kita bisa mengambil contoh kata ‘baju’. Identitas makna tentang ‘baju’ akan selalu berelasi denan identitas lain seperti ‘celana’. Relasi keduanya saling menentukan. “baju’ tanpa relasinya dengan ‘celana’ tidak akan mempunyai makna apapun. Dalam identitas ‘baju’ akan selalu ada identitas ‘celana’ yang bukan ‘baju’.  Garis kesimpulan yang bisa dipetik adalah ‘baju’ adalah ‘baju’ dan ‘sekaligus ‘bukan baju’. Doktrin Relasi Internal ini berlaku pada semuanya secara universal.[11]

Pada perkembangan kontemporer selanjutnya, gagasan atas Doktrin Relasi Internal yang dibangun oleh Hegel ini diteruskan oleh beberapa pemikir Pasca-Strukturalis. Kata kunci ‘perbedaan’ atas identitas menjadi sangat penting. Dalam sebuah identitas makna sekaligus terkandung relasi internal antara ada dan ketiadaan sekaligus. Ia tidak dapat dipisahkan dan dikurangi. Dalam pemikiran seperti yang dikembagkan oleh Derrida, Differance (perbedaan) dan ‘penundaan atas makna’[12] menjadi konsep yang sangat penting. Bagi pemikiran Derrida, perbedaan antar ‘penanda’ dengan demikian, menjadi syara kemungkinan sekaligus syarat ketidakmungkinan bagi setiap identitas dan makna.[13] Apa ang dahul dimengeri sebaga kesadaran objek yan tetap (objektif) yang ada dalam nalar realism objektif tertutama nalar positivism telah diserang jantung keyakinannya. Pandangan itu sejatinya ilusi dan tidak ada, Apa yang disadarai sebagai kenyataan objektif adalah tidak ada. Ia hanyalah “produk dari mekanisme perbedaan-penundaan yang intra-diskursif”.

Pada cataan kritik terhadap ‘metafisika kehadiran’ ni, mengingatkan pada gagasa besar Kant tentang ‘kritik atas metafisika’. Dalam pandanga Kant yang terpenting bukanlah pertanyaan apa yang secara ontologis ada di depanmu tetapi bertanyalah tentang apa yang ada dalam korelasi antara dirimu dan yang dihadapmu.[14] Prinsip relasional ini kental dalam pandangan Kant yang juga menjadi pemikiran dari kaum Pasca-Strukturalisme seperti Derrida. Pada gagasan penting Derrida terungkap bahwa “Yang lain hadir dalam identitas sebuah ikwal sebagai sesuatu yang tidak hadir”. Kalimat it tentu butuh permenungan filsofis untuk bisa mudah memahaminya. Hadir yang tidak hadir adalah konsep kunci yang dipakai oleh Derrida dala pemahaman tentang penundaan. Dalam gagasam besarnya disebut sebagai makna ‘kurang’. Identitas tida pernah ‘jadi dan final’ tetapi selalu ‘bertumbuh dan berproses’ ia aka selalu kurang.

Pada gagasan tentang ‘kekurangan’ inila sebenarnya pintu masuk dalam melihat kelemahan dari pikiran Pasca-Struktural. Makna relasi dan kekurangan sendiri selalu merujuk pada sesuatu. Tidak akan mungkin bahwa relasi itu hadir dari sesuatu yang bukan apa-apa alias tidak ada. Artinya pertanyaan pentng yang diajukan oleh Martin Suryajaya dalam bukunya menjadi sangat penting. “`Jika dalam ‘teks’ tidak ada yang memiliki identitas di luar relasi internal dengan yang lain, maka ‘teks’ itu sendiri niscaya menunjuk dan mengarah pada sesuatu yang keberadaannya tida mensyaratkan relasi dengan yang lan. Sesuatu itu adalah sesuatu yang selalu dihampiri oleh Teks.[15]

Jadi penolakan Kaum Pasca-Strukturalis atas nalar ‘representasional’ teks tentu tidak beralasan dan justru sarat hanya sebagai kalimat yang tidak bermakna sama sekali. Inilah yang kemudian oleh kaum materialisme sebagai apa yang disebut sebagai ‘batas dari idealisme’. Artinya bisa dikatakan lan bahwa, “jika semuanya berkorelasi satu sama lain untuk memiliki makna, maka korelasi itu sendiri, agar bermakna, mersti mengarah pada sesuatu yang a-korelatif. Pada titik inilah kritik kaum realisme bisa didengarkan sebagai titik batas kelemahan dari pemikiran Pasca-Strukturalisme yang berpusat pada korelasi dan relasi tanda.



[1] Untuk memahami beberapa pemikir yang hadir dalam perdebatan diantara pemikir kontemporer pasca-Strukturalisme anda bisa lihat dala buku : Lihat, John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer : Dari Strukturalisme sampai Pasca-Strukturalisme, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2001. Atau buku Madan Sarup, PostStrukturalisme dan Postmodernisme : Sebuah Pengantar Kritis, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2004.
[2] Yang menjadi catatan pentingnya adalah bahwa situasi pemikiran Postmodernisme juga lahir dalam setting sosial dan setting waktu tertentu dimana gejolak terhadap ketidakpercayaan naras-narasi besar sosial, politik, budaya tentang sebuah proyek emansipasi politik sosial masyarakat telah begitu menjangkit, salah satunya adalah tentang problem emansipasi politik yang dibangun oleh ideology-idelogi besar pada waktu itu.
[3] Lihat, Alex Callinicos, Menolak Postmodernisme (terj.), Penerbit ResistBook, Yogyakarta, 2008, hal. 16. Bagi para pemikir Pasca-Strukturalis atau Posmodernisme, proyek nalar kemajuan yang dicita-citakan oleh modernism mengandung cacat dan wajah monster mengerikan yang membalik dari spirit ideal yang dibangunnya. J.F Lytard salah satu pemikir Postmodernisme bahkan mencurigai proyek modernisme sebagai  nalar yang menciptakan kejahatan luar biasa bagi umat manusia.
[4] Lihat, Abdul ‘Dubbun’ Hakim, Diskursus Filosofis Modernitas : Debat Jurgen Habermas dan Jacques Derrida yang dimuat dalam Majalah Filsafat Drijarkara, Tahun XXI NO. 2.
[5] ‘Modernisme’ lebih dimengerti sebagai proses pencapaian dari gagasan rasionalitas unstrumentalis. Modernisme sendiri merupakan gerak pkiran rasional untuk memutus hubungannya degan nilai-nilai tradisonal sebelumnya yang masih mengagungkan mitos sebagai prinsip epistemologi dasar. Abad pencerahan (aufkalarung) di Erpa di abad ke 18 M, menjadi tonggak penting bagaimana kesadaran modern mulai dibangkitkan dengan nalar rasionalitas yang ketat, tertib dengan mekanisme-mekanisme baku yang dianggap memenuhi prosedur dari cara piker masyarakat lmiah. Dalam era modernism, yang mitos kemudian disingirkan,
[6] Lihat, Ariel Heryanto, “Postmodernisme yang mana? Tentang Kritik dan Kebingungan dalam Debat Postmodernisme di Indonesia” dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi Im Jakarta, 1994, hal. 80/
[7] Lihat, Ariel Heryanto, Ibid, hal. 80.
[8] Lihat, Hans Bertens, The Idea of The Postmodern : A History, Penerbit Routledge, London, 1995. Yang dikutip dalam bukunya Medhy Aginta Hidayat, Menggugat Modernisme : Mengenal Rentan Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard, Penerbit Jalasutra, Yogyakarta, 2012, hal. 41. Menurut telaah Hans Bertens, karakteristik penting dari pemikiran Postmodernisme antara lain adalah : pluralisme, heteredoks, ekletisisme, keacakan, pemberontakan, deformasi, dekreasi, desintegrasi, dekonstruksi, pemencaran, perbedaan, dekontinuitasm dekomposisi, de-definisi, delegetimasi seta demistifikiasi.
[9] Lihat, Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis : Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, Penerbit ResistBook, Yogyakarta, 2012, hal. 2 – 3.
[10] Lihat, Martin Suryajaya, Ibid, hal. 3.
[11] Dalam ungkapan Hegel yang cukup penting kita simak adalah “Tak ada sesuatupun di langit dan dibumi yang pada dirinya tidak mengandung ada dan ketiadaan sekaligus”. Lihat, Martin Suryajaya, Ibid, hal. 3
[12]  Apa yang ditunda dalam pengertian ini adalah ‘kehadiran objek’. Kita bisa menengok dalam prinsip nalar modern yang disebut sebagai ‘metafisika kehadiran’. Oleh pemikiran  Pasca-Strukturalis ‘metafisika kehadiran’ ini digugat.
[13] Lihat, Martin Suryajaya, Ibid, hal. 5.
[14] Hal yang hampir sama pernah menjadi bagian diktum penting pada relasi masyarakat dan Negara. Ungkapan idealis yan begitu sering dipakai dala diskursus kenegaraan di Indonesia. Kalimat itu adalah “jangan tanyakan apa yang telah diberikan Negara, tetapi tanyalah apa yang telah kamu berikan kepada negaramu”.
[15] Lihat, Martin Suryajaya, Ibid, hal. 9.

Tidak ada komentar: