Rabu, 25 September 2013

Kubenci Kain Putihmu

Kubenci Kain Putihmu


Aku tak tahu....
Warna putihnya kini menakutkan
Raut wajah tak bisa kukenal
Dalam barisan mahluk anonim
Berteriak-teriak dalam irama kedengkian....
Ujaran imanmu hanya untuk membunuh
Bakar...bakar....bunuh...bunuh.....

Aku tak tahu....
Mengapa semakin membencinya...
Saat hati disemayamkan..
Ketika pikiran dimakamkan...
Kala rasa tersumbat aroma kedangkalan...
Bukankah kain putihmu ...
hanyalah bungkus kotoranmu sendiri

Aku tak tahu....
Berapa lama kain itu tak kau cuci
Lihat saja pori-pori benangya...
tak sanggup menyembunyikan
Hitam gelap pikiran yang sakit

Aku tak tahu...
Kapan kain putihmu tak lagi membunuh.....

(Bantul, 25 September 2013)

Selasa, 24 September 2013

Jikalau Waktu Tetap Diam


Sudah lama aku ngga melihatnya
Tersapu keresahan yang tertahan
Anganku kadang lirih memaksa
meminta satu abjad untuk disuarakan

Tetapi mungkin pikiranku keliru
Suara itu tak mungkin lagi terdengar
Tersimpan rapi dalam persembunyian

Jikalau waktu tetap diam...
Masihkan aku berhak bertanya?

(Bantul, 24 September 2013)

Jumat, 06 September 2013



BELUM LAMA IA DIKUBURKAN
Oleh : Tri Guntur Narwaya



Kuingat belum lama ia dikuburkan…..

Mati karena tersungkur jatuh
Dalam tumpukan hasrat dan kekerdilan ambisi
Yang membutakan sluruh perangkat akal sehatnya
Terjungkal oleh gelap rasa takutnya sendiri
Ingin membeli ‘mimpi’ dengan uang haram keculasan

Kuingat belum lama ia dikuburkan…..

Kepergiannya tak dirayakan para sahabat
Yang pernah memeluk dan merawatnya
Selayaknya kehilangan yang harus ditangisi
Hingga kutukan itu menjemputnya
Bersemayam dalam gelap dan bayangan
Pada batu nisan tak bernama
Tanpa rasa hormat dan air mata

Wajah dan nafasnya tak lagi di atas tanah
Hanya busuknya mudah terendus
Dalam hembusan bau anyir dan aroma kotoran
Merayap dan  menularkan pada yang hidup
Dan semua saja yang mudah terkesima dan lupa

Kuingat belum lama ia dikuburkan …..

Dulu ia datang dengan pesona
Berteriak lantang menantang
Dalam rajutan keras kata-kata
Dan indah prosa dan bait-bait tulisan
Tak ada yang pernah berucap….
bahwa ia punya mulut srigala
Rakus memakan apa saja
Yang ada hanya rasa sanjungan
Menggelayut mesra hingga kematiannya

Ia dulu barangkali lupa…
Pujian adalah mata pisau berkarat
Yang saat ini telah membunuhnya
Ia dulu barangkali lupa…
Kritikan adalah mutiara emas
Yang slalu memberi kecerahan warna

Tapi mahluk itu telah dikuburkan
Bersama dengan cerita horror tentang penghianatan
Pada pilar gagasan mulia gerakan
Yang telah disampahkan dan diinjak-injaknya sendiri
Kisahnya kini telah dilarung dalam lautan peringatan
Bersama ombak kehidupan yang bisa menerjang siapa saja.
Bahwa kerja penghianatan adalah lubang kerapuhan tanpa dasar

Kuingat belum lama ia dikuburkan …..

(Bantul. 30 Agustus 2013)