Minggu, 21 Juli 2013

Erdogan : Pejuang Politik Turki Modern


Oleh : Tri Guntur Narwaya, M.Si




“Masjid adalah barak kami
Kubah adalah penutup kepala kami
Menara adalah bayonet kami
Orang-orang yang beriman adalah tentara kami
Tentara ini yang akan menjaga agama kami..”
(Ziya Gokalp)


Bait puisi perlawanan di atas  ditorehklan dengan indah oleh pengarang besar Ziya Golkap . Bait puisi ini mengandung pesan yang amat dalam dan menantang.  Melalui suara keras Recep Tayyeb Erdogan, pesan puisi menjadi mata pedang yang lebih tajam. Dengan puisi itulah Erdogan sempat dipenjarakan karena dianggap menghasut rakyat Turki. Bait puisi itu kemudian banyak dihafal dan dikenang. Bukan saja untuk para penikmat sastra. Puisi itu seolah mengingatkan pada gemilang perjuangan seorang pemimpin Turki, Recep Sayyeb Erdogan. Mungkin tidak tiba-tiba puisi itu lekat dengan sejarah Ertdogan. Ia menjadi api percikan yang menakutkan bagi status quo kekuasaan Turki pada saat itu.  Bahkan jika saja rakyat Turki ditanya “kenapa Erdogan pernah harus dipenjara”, mereka akan serentak menjawab karena puisi itu. Mungkin kisah ini hanya satu cerita tentang sosok tokoh dan pemimpin Islam terkenal di Turki yakni Perdana Menteri Recep Sayyeb Erdogan. Bukan tentang puisi itu kita bicarakan, tetapi tentang sosok penting Turki, Erdogan yang mampu merbah wajah politik Turki Modern saat ini.

Tak ada yang tidak kenal siapa itu Recep Tayyeb Erdogan di Turki. Namanya bahkan melambung tinggi menjadi harapan besar rakyat Turki sampai sekarang. Perjalanan politiknya penuh warna dan mengesankan. Kepemimpinan dan ketegasannya dalam membela orang-orang miskin dan juga masyarakat Islam di Turki tidak diragukan lagi. Kisah Erdogan bisa disejajarkan dengan kisah perjalanan Turki sendiri. Sebuah warna khas kepemimpinan yang mengguncang abad ini. Apalagi Turki sebagai sebuah negara mempunyai sejarah perjalanan besar. Negara yang berdiri di antara peradaban Barat dan Timur Tengah ini mempunyai kisah menarik tentang Erdogan. Bisa dikata Erdogan bisa disejajarkan dengan beberapa tokok politik fenomenal abad ini. Tak sedikit orang, menyebut ia sebagai penyerupaan dengan Sultan Abdul Hamid II yang amat melegenda dalam sejarah Kesultanan Turki.


Pergolakan dan Transisi Politik Turki Modern

Meskipun kisah sosok Erdogan bisa jauh ditelusuri sejak pertumbuhannya menjadi aktifis politik, namun kehadiran dia tidak bisa terlepas dengan konteks Turki yang sedang mengalami gelombang Transisi.  Di masa awal tampilnya Erdogan dalam panggung depan politik Turki, negara ini sejatinya banyak mengalami kekosongan politik dan juga krisis ekonomi. Turki juga mengalami sebuah situasi di mana terjadi defisit kepercayaan publik. Pemerintah koalisi yang rapuh yang sebelumnya memerintah telah memecah belah masyarakat dalam ketidakpastian.  Banyak kemajuan yang lamban, krisis ekonomi dan keuangan dan juga persoalan rumit dalam keanggotaan Uni Eropa. Melalui Partai Keadilan dan Pembangunan, Erdogan berhasil membuka krisis itu dengan harapan baru. Sebuah perombakan cara kepemimpinan dan manajemen pemerintahan mulai memberi harapan. Partai Keadilan dan Pembangunan yang sebelumnya tidak dipandang mata dan bahkan hanya memiliki kekuatan minoritas telah menjadi kekuatan mayoritas menggantikan struktur kekuatan yang lama. Hampir 60% lebih partai ini meraup kemenangan di pemilu tahun 2007. Tak ytanggung-tanggung bahkan bisa mulai perlahan menggantikan dominasi militer di Turki.

Kesuksesan Partai Keadilan dan Pembangunan merupakan kisah gemilang yang luar biasa dan menjadi sejarah besar bagi Turki. Diketahui, tidak ada satu partai manapun yang bisa memenangkan parlemen sejak tahuan 1987.  Partai yang dipimpin Erdogan menjawab semua pesimisme rakyat Turki. Partai ini kemudian menjadi hadir sebagai jawaban dari keterpurukan ekonomi dan politik di Turki. Ada konteks sejarah yang juga mendukung besarnya partai ini. Sebelumnya agak sulit di negara sekuler seperti Turki sebuah Partai yang memperjuangkan nilai-nilai Islam bisa lama bertahan. Sejarah sekularisasi Turki banyak menenggelamkan kiprah partai-partai Islam. Dalam banyak hal mereka gugur dan tidak bertahan. Di sisi lain juga iklim demokrasi sekuler menyebabkan partai-partai Islam dilarang untuk eksis. Pengalaman ini juga pernah dialami partai  Islam seperti Partai Refah dan Partai Fadhilah yang sejatinya dahulu juga punya relasi dengan kiprah Erdogan dalam panggung politik.

Perubahan langkah dan strategi Erdogan dengan kebijakan misi partainya memberikan harapan sekaligus dukungan. Erdogan dengan langkah strategis tidak lagi membawa identitas keIslaman yang dipaksa vis a vis dank eras dengan demokrasi sekuler yang seudah menjadi prinsip dan landasan negara Turki. Ia justru melakukan transformasi kebijakan yang meletakkan Partai menjadi lebih moderat tetapi tidak menghilangkan mandate utama keIslamannya. Langkah ini begitu mampu memberi harapan baru. Dukungan yang rakyat Turki yang luar biasa kepada partai itu, sebagai salah satu bukti keberhasilan itu. Meskipun tidak dipungkiri, siasat ini dianggap oleh sebagian rival politiknya sebagai kamuflase dan manipulasi kepurapuraan Erdogan dalam mendulang susra. Ada proyek bahaya Islamisasi tersembunyi, begitulah tuduhan yang mengemuka kepada langkah Erdogan dengan kekuatan politik Partai Keadilan dan Pembangunan.

Dalam politik moderatnya, Erdogan bersama Partai Keadilan dan Pembangunan ingin memberikan visi dan perspektif baru dalam memenangkan hati masyarakat. Politik moderatnya meletakkan prinsip kerjasama dengan berbagai kelompok dan kekuatan manapun dan menghindari capaian visi yang ekstrim. Dalam langkah-langkah kebijakan yang diambil, ia selalu menghilangkan ekstrimitas keagaman dan juga pandangan konservatif yang sempit. Tetapi jauh dari situ sebenarnya sosok Erdogan sendiri dalam perjalanan karir politik kepemimpinan memang sudah banyak tidak diragukan. Sebelum meniti karir yang lebih tinggi, Erdogan dianggap mempunyai kepemimpinan yang baik selama memimpin Wali Kota Istambul dengan berbagai program-program yang riil menyentuh pada kebutuhan masyarakatnya. Melalui Erdogan pula maka pelarangan pemakaian jilbab di sekolah-sekolah dan di instansi negara kemudian dicabut. Bagi sebagaian besar rakyat Turki, ia dianggap menjadi penerang bagi proses kebangkitan Islam di Turki modern.

Langkah politik Islam dikemas secara moderat dalam politik yang kongkrit dan menjanjikan. Demikian apa yang sekarang terjadi di Turki. Sejak awal memang proses pembaharuan ini yang justru diterima oleh sebagian besar rakyat Turki. Sesuai dengan prinsip politik yang selalu diucapkan bahwa politiknya adalah demokratis yang Islami. Dalam satu wacana yang selalu muncul diucapkan Erdogan adalah “Kami partai yang menjaga demokrasi. Partai yang tidak memfokuskan pada dasar-dasar agama maupun kesukuan. Terbebas dari kedekatan-kedekatan ideologi”. Pola dan strategi ini menjadi landasan berharga dalam kiprah pemerintahannya. Di tangan Erdogan, telah terjadi peningkatan ekonomi di Turki. Termasuk yang menjadi bukti, Turki dalam pemerintahan Erdogan telah terjadi laju penurunan inflansi hampir 5% lebih. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk Turki yang tidak terjadi selama ini.

Tahun 2002, adalah awal sebuah transisi politik dan ekonomi bagi Turki.  Pemilu ketiga pada bulan November 2002 tersebut adalah titik krusial bagaimana Partai Keadilan dan Pembangunan meraih kemenangan awal yang cukup fantastis. Sebuah pendekatan yang cukup gemilang dalam menyelaraskan kondisi objektif negara yang sekuler dengan nilai-nilai tradisi Islam. Langkah tidak ekstrim dan tidak frontal inilah yang menjadi salah satu kita sukses Erdogan. Erdogan bisa menggabungkan keselarasan nilai-nilai modern dengan nilai-nilai tradisional yang menjadi kebanggaan rakyat Turki. Namun orang tidak bisa menyangsikan pula bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan tak hanya mencitrakan partai modern yang moderat tetapi sungguh bisa menampilkan partai Islami yang mempunyai masa depan.

Judul buku yang dituliskan oleh Syarif Taghian “Erdogan: Muadzin  Istambul Penakluk Sekularisme Turki” memang sangatlah tepat untuk menggambarkan sosok kiprah dan dedikasi Erdogan untuk Turki secara umum. Di tangan kekuatan politik yang dipimpin oleh Erdogan, maka Turki benar-benar mengalami reformasi secara fundamental. Memperjuangkan nilai-nilai Islam dengan tetap menjaga ruang dialog bagi negara-negara lain. Sistem tata kelola politik Turki saat ini dianggap mewakili dari pandangan terhadap politik demokrasi yang pas yang dijalankan di Timur Tengah. Langkah kebijakan Erdogan juga menjadi bukti keberhasilan bagaimana politik Islam bisa dikelola secara moderat dan mempunyai masa depan yang riil. Islam bukanlah sebuah entitas menyeramkan. Politik Turki di tangan Erdogan bukanlah ancaman bagi demokrasi. Langkah inilah yang berhasil meyakinkan masyarakat Uni Eropa untuk menerima Turki dalam keanggotannya.

Pada level teori politik, model politik pemerintahan Turki bahkan telah menjadi perbincangan hangat di kalangan  pemikir politik negara. Tiga pilar model politik Turki yakni ‘Demokrasi’, ‘Islam’ dan ‘Sekularisme’ berhasil menjadi pilar yang berharga. Ia bahkan dianggap yang paling cocok untuk sistem politik di Timur Tengah. Dalam buku yang dikarang oleh Syarif Taghian, dijelaskan tiga pilar prinsip tersebut: Pertama, tatanan politik Turki merupakan model dari sikap kelompok Islam yang bisa membantu mereka untuk berinteraksi   dengan keadaan dalam negeri  di negara vmereka dengan sikap yang realistis , pragmatis dan moderat: Kedua, tatanan politik Turki merupakan model demokrasi Islam yang moderat yang selama ini dicari oleh kekuatan Barat dan berusaha menerapkannya secara luas: Ketiga, merupakan model kemampuan identitas Islam untuk beradaptasi dan menghargai nilai penting di masyarakat yaitu ‘kebebasan’, ‘keadilan’ dan ‘tranparansi’.


Melampaui Hegemoni Militer

Berbicara konteks politik Turki memang tidak bisa menghindar dari kancah dan kiprah Militer di sana. Turki modern hampir sekian perjalanannya amat didominasi oleh pengaruh kekuatan militer. Catatan sejarah Turki amat gamblang bisa menunjukan sebuah adidaya kekuatan Militer di Turki. Hampir ada empat pemerintahan sebelumnya yang sah berhasil digulingkan (dikudeta) oleh kekuatan militer sejak berdirinya negara Turki secara Demokratis pada tanggal 29 Oktober 1923. Kekuatn militer Turki memang sangat menentukan. Berbagai kebijakan selalu mempertimbangkan kekuatan ini. Kekuatan militer mempunyai tempat besar di Turki sejak masa kekuatan Kemal Atartuk berhasil menumbangkan kekuasaan khilafah di Turki. Namun perubahan kekuasaan yang ditampilkan Perdana Menteri Erdogan berhasil merubah beberapa kenyataan ini. Bahkan dengan digolkannya UU untuk pengadilan para jenderal militer, maka telah banyak pemimpin-pemimpin Militer yang berhasil ditahan dan dipenjarakan karena bukti-bukti kejahatan politiknya.

Dalam dimensi tertentu, tentu catatan ini tidak mengatakan bahwa kekuatan militer ini kemudian hilang dengan begitu saja. Ada banyak usaha militer ini untuk menumbangkan keperkasaan rezim Erdogan. Tentu saja dengan berbagai strtategi politik yang terus menerus melemahkan pemerintahan Erdogan. Bagi prinsip militer, pemerintahan sipil tentu akan selalu dilihat sebagai penghalang. Apalagi sejarah Turki sejak terbangun memang menempatkan Militer sebgai kekuasaan besar dalam menyusun langkah-langkah kebijakan negara. Lahirnya Turki Modern yang sekuler memang tidak bisa dilepaskan dengan kekuatan militer ini. Sda banyak faktor mengapa kekuatan militer Turki amatlah besar. Dalam catatan buku ini salah satunya yakni karena kondisi geografis dan politis Turki yang memungkinkan posisi keamanan Militer menjadi kuat. Salah satunya adalah juga dukungan kekuatan Amerika terutama dalam rangka dominasinya di wilayah politik Timur Tengah. Turki secara geopolitik dianggap sangat strategis bagi hegemoni Amerika di Timur Tengah, kecuali juga Arab Saudi.

Namun, sejak Partai Keadilan dan Pembangunan tampil, memang sudah terjadi kemerosotan dan kemunduran dari kiprah hegemoni militer. Perubahan kebijakan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Erdogan dalam bidang pemisahan militer dan sipil dalam pengelolaan negara berhasil perlahan menyisihkan peran militer dalam panggung politik. Perubahan ini terasa dalam kebijakan Dewan Keamanan Nasional dan Sekretariat Jendralnya yang juga sejatinya berhasil mengkerdilan Militer dalam panggung politik. Ada banyak kewenangan militer yang kemudian dirubah dan diganti. Secara fundamental proses ini akan memperkuat posisi kekuatan politik sipil di Turki.


Memperkecil Friksi : Langkah Tranformasi Politik

Langkah menjanjikan Erdogan sejatinya serupa sebagai langkah untuk mengurangi ketegangan dan friksi kekuatan politik. Bagi pandangan Erdogan, ekstremitas dan penajaman friksi justru sering memberi poin kontraproduktif bagi perkembangan politik Turki.  Pada catatan menarik buku ini di hal 179 disebutkan bahwa langkah menjanjikan berpegang pada prinsip keselarasan Turki tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar yang akan menguntungkan bagi masyarakat umum. Nenurut catatan buku ini, visi partai Keadilan dan Pembangunan adalah “menegaskan bahwa negara harus memainkan perannnya dalam menyelenggarakan kepentingan umum dengan meminimalisir kontradiksi dan menyelaraskan berbagai kelompok yang berbeda pandangan. Hal itu diloakukan dengan cara menciptakan interaksi positif dalam masyarakat yang mampu menumbuhkan komunitas masyarakat yang tenteram dan damai tanpa kekerasan  dan intimidasi”. Dari prinsip dasar itu sejatinya juga bisa dikatakan bahwa perkembangan politik Turki melalui figur penting Erdogan ini merupakan keberhasilan bagi negara demokrasi yang menghormati Islam dan masyarakat yang religius tanpa menghapuskan sekularisme.

Masih banyak tentu tantangan pekerjaan rumah yang hadir di dalam bangsa Turki. Tantangn itu selalu akan menjadi pelatuk dan juga katup penting bagi transisi perubahan di Turki. Sebagai negara yang memang mempunyai sejarah penting di Eropa maupun di Timur Tengah, maka tentu saja dinamika ketegangan dan konflik tidak bisa dihindari. Turki masih dihadapkan oleh beberapa persoalan yang terus harus diselesaikan seperti masalah Kurdistan, masalah tuntutan komunitas Kristen Turki, masalah kelompok Syiah di Turki yang cukup besar dan tentu saja masalah sisa-sisa dominasi militer. Tak ayal tentu saja semua itu akan menjadi potensi dari ujian besar bagi Erdogan dalam memimpin Turki. Berkaca dari pengalaman kegagalan Partai-partai Islam di Turki, maka langkah kebijakan kepemimpinan Turki saat ini adalah langkah yang amat cerdas terutama kecerdikan dalam melihat konteks kondisi objektif Turki. Mungkin sebagian melihat ini sebagai politik kepura-puraan tetapi dalam sudut pandang lain inilah yang disebut sebagai kecerdasan misi seorang pemimpin Islam dalam era modern hari ini.

Sosok kiprah Recep Tayyeb Erdogan, dalam kancah kememimpinan politik modern saat ini bisa menjadi rujukan dan bacaan penting. Sebagai sebuah model, ia bisa menjadi cakrawala baru. Bukan hanya sebagai figur, tetapi juga menjadi sebuah peristiwa hidup yang penting dilihat.  Tentu sekali lagi, sosok kepemimpinan bukan sebuah hasil dari kerjaan resep instan yang siap saji melainkan dibangun dari kiprah pergilatan hidup yang kongkrit. Erdogan menunjukan itu. Tak bisa dipungkiri keterlibatannya memperjuangkan masyarakat kecil dan tertindas adalah bukti nyata. Jejak rekamnya tak lepas dari perjuangan pembelaan mereka yang lemah dan tertindas. Bukan sebagai jargon tetapi wujud kongkrit bukti pilihan hidupnya. Erdogan adalah contoh kongkrit sebuah dedikasi politisi dan pemimpin yang tidak terseret oleh ambisi instan kekuasaan. Politik menjadi sarana dari cara ia mewujudkan nilai-nilai Islam serta demokrasi di Turki. Buku ini amat penting dan relevan untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin membangun politik dengan langkah-langkah benar. Buku ini saya kira menarik untuk memberi contoh pada politisi Islam untuk bisa bergerak secara kritis dalam menghadapi tantangan-tantangan kongkrit modern hari ini. Erdogan adalah salah satu nama yang harus disebutkan untuk menjadi bacaan hidup bagi gerakan dan kepemimpinan Islam modern. Amin

***


















Tidak ada komentar: